Minggu, 11 Desember 2016




Nama    : Argya Aradhana
NIM       : 2001613244
Jurusan : Teknik Industri (S1)

               Aku  mahasiswa BINUS yang mengikuti event DV RUN 2016. Apa itu DV RUN? DV RUN merupakan singkatan dari Dhammavadana RUN. Dhammavadana merupakan nama dari salah satu UKM keagamaan di binus yang bernama Keluarga Mahasiswa Buddhis Dhammavadana disingkat menjadi KMBD. Nah , DV RUN 2016 merupakan salah satu event KMBD, berkolaborasi dengan TFI , dan juga sponsor-sponsor lainya. TFI  singkatan dari Teach For Indonesia , merupakan UKM sosial di BINUS University.

               DV RUN 2016 merupakan event charity berupa lari 5 km , dan bukan itu saja. Ada perform & meet greet dengan orang-orang keren & kece, bisa berkunjung juga ke stand-stand UMKM EXPO nya untuk belanja cemilan, minuman, aksesoris gitu. Event ini diadakan di Taman Impian Jaya Ancol Tanggal 4 Desember 2016 pada hari Minggu. Acara dimulai jam 7 pagi dengan start lari. Yang ikut DV RUN ramai sekali, kira-kira bisa sampai 1000an. Ada alasan & tujuan dibalik diadakanya DV RUN 2016:

1.      Merayakan Hari Pahlawan Nasional & Hari Anak Internasional dengan mengadakan event 5K Charity Run dan UMKM EXPO.
2.      Mengadakan 5K Charity Run yang dapat menginspirasi para pelari & memberikan mereka semangat kehidupan yang lebih baik.
3.      Memperjuangkan hak-hak dasar anak-anak yang ada di Indonesia untuk kehidupan yang lebih baik lagi.
4.      Mendonasikan keuntungan dari hasil event DV RUN 2016 kepada Yayasan atau Rumah Singgah yang memperjuangkan & membina anak jalanan.

Alasan Kami mengikuti DV RUN 2016 pertama untuk berdonasi dengan cara yang seru & bermanfaat. Kedua, ingin mencari inspirasi & seru-seruan bareng. Ketiga, mencari teman-teman baru. Keempat, ingin mendapatkan Jam Sosial / Community Hours sebagai salah satu syarat untuk bisa lulus dari BINUS University , J .

Pelajaran yang aku petik dari DV RUN 2016, jangan mudah menyerah & sportif lah dalam usaha meraih tujuan.

Untuk teman-teman anak jalanan, teruslah berjuang & berusaha , tetaplah positif, Karena sukses adalah milik orang yang terus berusaha & tidak takut gagal berkali-kali. Anda yang saat ini ditentukan oleh masa lalu anda, namun anda yang saat ini menentukan masa depan anda. Pesan yang sama untuk para aktivis sosial anak jalanan. Teruslah berjuang demi kebaikan semuanya.

Foto-foto DV RUN 2016 versi aku :D 

Aku :


bersama teman-teman mahasiswa BINUS :





Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data terbaru jumlah penduduk Indonesia. Per September 2014, jumlah penduduk miskin Indonesia tercatat sebesar 27.73 juta orang atau mencapai 10.96% dari keseluruhan penduduk.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar dengan pendekatan kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan darisisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). GKM merupakan nilai pengeluaran makanan yang disetarakan dengan 2,100 kalori per kapita per hari sedangkan GKBM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan.
Seperti yang dilansirberitasatu, Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
Penduduk miskin ini tercatat di database pemerintah (i.e data RT, RW, Kelurahan) dan menjadi acuan bagi pemerintah dalam program pelayanan terhadap penduduk miskin seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lainnya.
Lantas bagaimana dengan statistik anak terlantar di Indonesia?
Berdasarkan UU No.23 tahun 2002 yang disebut anak terlantar adalah anak-anak yang tidak dipenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, dan juga sosial.Bagaimana cara mengukur seorang anak sudah terpenuhi kebutuhannya secarawajar? Hal ini merupakan sebuah tantangan tersendiri.

Anak jalanan merupakan gejala sosial yang muncul akibat krisis di berbagai bidang dan menjadi salah contoh nyata dari sekian anak terlantar yang ada di Indonesia. Mereka adalah anak-anak di bawah umur 16 tahun yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan untuk mencari uang.
Seperti yang kutip dari Blogdetik.com, data terakhir (2008) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa anak jalanan Indonesia berjumlah 154,861 jiwa, dimana hampir separuhnya berada di Jakarta, dan sisanya menyebar di kota besar lainnya seperti Medan, Palembang, Batam, Serang, Bandung, Jogja, Surabaya, Malang, Semarang, dan Makasar.
Menurut Soetarso (2004), masalah anak jalanan tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal seperti: 
1. Berlangsungnya kemiskinan struktural dalam masyarakat. 
2. Semakin terbatasnya tempat bermain bagi anak karena pembangunan yang semakin tidak mempertimbangkan kepentingan dan perlindungan anak. 
3. Semakin meningkatnya gejala ekonomi upah dan terbukanya peluang bagi anak untuk mencari uang dari jalanan.
Kondisi lain seperti keharmonisan keluarga, kasus perceraian, dan juga kasus kekerasan dalam rumah tangga menjadi faktor pendukung lain anak keluar dari rumah dan menetap di jalanan.
eperti yang dikutip oleh Blog Detik.com Anak Jalanan dapat dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu :
  1. Children of the Street yaitu kelompok anak yang hidup 24 jam di jalanan, tidak ada kontak dengan keluarga, tidak lagi pulang ke rumah (meskipun ada), dan tidak bersekolah.
  2. Children on the Street yaitu kelompok anak yang masih memiliki keluarga dan pulang ke rumah, sebagian ada yang bersekolah. Berdasarkan data yang ada, kategori ini yang meroket jumlahnya semenjak krisis 1997 melanda Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya penurunan penghasilan orang tua akibat gelombang PHK sehingga membantu orang tua termasuk membiayai sekolah menjadi alasan mereka berada di jalan.
3.Children of Vulnarable to be on the Street yaitu kelompok anak yang berteman dengan dua tipe diatas dan terkadang ikut-ikutan turun ke jalan.
Berdasarkan seringnya kejadian berpapasan dengan anak jalanan (baik itu yang masuk di kategori (1), (2), ataupun (3)), membuat saya menduga jumlah anak jalanan di Jakarta, Depok, dan Bogor (tiga kota yang terdekat dengan tempat tinggal), meningkat nyata di bandingkan 2008.
Di tahun 2002, berdasarkan hasil Susenas yang diselenggarakan oleh BPS & Pusdatin Kementrial Sosial tercatat sebanyak 94,674 anak jalanan di Indonesia. Terjadi peningkatan 64% anak jalanan dari 2002 – 2008 atau rata-rata sekitar 10.6% per tahun peningkatannya. Menggunakan asumsi terjadi peningkatan 10.6% per tahun untuk angka anak jalanan, maka di akhir 2015 diperkirakan terdapat tiga ratus ribu anak jalanan di Indonesia (estimasi dengan pendekatan yang sangat konservatif).

upaya yang bisa dilakukan untuk membantu anak jalanan di Indonesia , dengan membuat rumah singgah, sekolah rumah, pemenuhan kebutuhan gizi, layanan kesehatan, pendidikan yang layak. 

Terima Kasih sudah membacaaa :)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar